SEJARAH & PERJALANAN
PERGURUAN PENCAK SILAT LUGAY KANCANA
Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana didirikan pada tahun 1948 oleh Abah Ating Suprihat di Bandung, dengan tujuan melestarikan dan mengembangkan seni bela diri tradisional Indonesia. Perguruan ini berkembang pesat di Jakarta Pusat, tepatnya di daerah Hutan Panjang, yang menjadi pusat pembinaan pesilat serta pelestarian budaya.
Tidak hanya fokus pada bela diri, Abah Ating juga mendirikan sanggar seni yang memadukan Reog, Debus, hingga kerajinan alat musik tradisional. Sanggar ini menjadi pusat kebudayaan yang memberdayakan pemuda untuk mencintai budaya leluhur.
Ajaran di dalam perguruan berakar pada tiga aliran besar yang membentuk fondasi gerak, strategi, serta kekuatan batin para pesilat:
Perjalanan panjang perguruan pada era 75-an memiliki satu kisah menarik tentang seorang murid dari Tiongkok bernama Wuchin. Berbekal jurus Kungfu, Wuchin mampu menguasai prinsip Cimande, Cikalong, dan Maenpo dalam waktu singkat, melahirkan gaya latihan yang kuat serta teratur.
Pada tahun 2017, perjuangan Abah Ating diteruskan kepada cucunya, Kang Dodi Suhada Akum, yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bersama ibundanya. Di bawah bimbingan mereka, Lugay Kancana terus berkembang sebagai wadah pelestarian seni dan budaya tradisional Indonesia.
Nilai utama tetap konsisten: hormat kepada guru, disiplin, persaudaraan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dukungan besar juga datang dari Ustad Herpi Hidayat (Pendiri Ponpes Miftahul Hoer) yang memberikan dukungan moral dan materiil demi kelangsungan perguruan dan masyarakat sekitar.
Komentar