SEJARAH GENDANG PENCAK SILAT


Sejarah, Struktur Ketukan, Hitungan Gerak dan Perkembangan Gendang Pencak di Tatar Sunda

Ditulis oleh: Kang Dodi Lugay
Bahan pembelajaran Seni Ibing Pencak Silat Lugay Kancana

Gendang Pencak bukan sekadar musik yang dimainkan di belakang pesilat. Dalam tradisi ibing penca Sunda, kendang, tarompet, goong, gerak, langkah, tenaga, dan rasa membentuk satu sistem pertunjukan yang saling berkomunikasi.

Kendang memberi ketukan dan aksen, pesilat menerjemahkannya menjadi gerak, sedangkan goong menjadi penanda penting dalam siklus musikal. Dalam kajian musikologi, struktur kendang penca memang dipahami melalui pola ritmis atau tepak, dan goong berfungsi menandai penyelesaian suatu siklus musikal atau gongan. (Scribd)

Namun, ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami:

Nama tepak tidak hanya menunjukkan cepat atau lambatnya musik. Setiap tepak memiliki karakter ketukan, hitungan, aksen, tempo, ruang gerak, serta kemungkinan variasi gerak yang berbeda.


🌿 1. AKAR BUHUN: TEPAK HIJI / SALANCAR

Dalam tradisi Cimande dikenal Ibing Tepak Salancar, yang juga disebut sebagai wirahma Tepak Hiji.

Tradisi ini merupakan salah satu bentuk ibing penca buhun yang dimainkan dengan iringan kendang penca. Dalam pedoman Cimande, Tepak Salancar disebut sebagai salah satu cikal bakal perkembangan berbagai wirahma kendang penca seperti Tepak Dua, Tepak Tilu, Paleredan dan Golempangan. (FlipHTML5)

Di sinilah kita menemukan konsep penting:

TEPAK = POLA KETUKAN + RITME + AKSEN + HUBUNGAN DENGAN GERAK

Jadi, ketika seorang pesilat belajar Tepak Hiji, Tepak Dua atau Tepak Tilu, yang dipelajari bukan sekadar mengikuti bunyi kendang.

Ia harus mengetahui di mana gerakan dimulai, berapa hitungan geraknya, kapan aksen terjadi, kapan gerakan berpindah, dan kapan siklus ditutup oleh goong.


🥁 2. TEPAK BUHUN, POLA 5 GERAKAN

Dalam tradisi tertentu terdapat tepak buhun dengan karakter ketukan yang sangat sederhana dan kuat.

Salah satu pola pembelajaran yang dapat digunakan adalah:

5 ketukan → 5 respons gerak

Pola seperti ini menunjukkan bahwa hubungan antara kendang dan pesilat sejak awal bukan sekadar musik pengiring.

Satu ketukan dapat menjadi satu respons gerak.

Pesilat belajar mengenali:

  • Ketukan awal

  • Aksen

  • Perubahan arah

  • Perpindahan langkah

  • Penutup

Pola buhun seperti ini penting diajarkan terlebih dahulu kepada pemula karena melatih kepekaan telinga terhadap ketukan sebelum memasuki pola yang lebih panjang.


🟢 3. PALEREDAN: HITUNGAN, RUANG DAN KEINDAHAN

Paleredan merupakan salah satu pola penting dalam ibing penca.

Dalam praktik pembelajaran yang digunakan di berbagai lingkungan penca, Paleredan dapat dikembangkan dalam hitungan gerak tertentu, termasuk pola 7 sampai 8 hitungan yang ditutup atau ditegaskan oleh bunyi goong, sesuai pakem perguruan atau koreografi yang digunakan.

Namun, perlu dibedakan antara hitungan gerak koreografi dan struktur musikal dasar.

Kajian Paetzold mencatat bahwa pola dasar Paleredan dalam transkripsi memiliki 16 ketukan utama, yang dapat dikelompokkan menjadi 4 × 4, dan satu siklus musikal ditandai dengan penyelesaian oleh goong. (Scribd)

Artinya, angka hitungan dapat digunakan dalam dua konteks:

Hitungan musik
→ struktur ketukan kendang.

Hitungan gerak
→ jumlah atau rangkaian gerak pesilat yang disusun mengikuti struktur tersebut.

Ini menjelaskan mengapa satu pola musik dapat melahirkan berbagai koreografi.


🌊 4. BOMBANG, LIWUNG, LIMBUNG DAN MINCIG

Yang menarik, satu tepak tidak selalu dimainkan lurus dari awal sampai akhir.

Di dalam perjalanan irama dapat muncul variasi atau sisipan pola.

Beberapa istilah yang dikenal dalam praktik kendang penca antara lain:

🌊 BOMBANG

Bombang dapat digunakan sebagai variasi ritmis yang memberikan perubahan karakter aksen dan kepadatan pukulan.

Dalam dokumentasi Paetzold, bombang muncul sebagai bagian sisipan dalam Paleredan dan menghasilkan rangkaian aksen yang lebih padat. (Scribd)

🌪️ LIWUNG / LIMBUNG

Istilah yang terdokumentasi dalam kajian musik kendang penca adalah limbung. Ia dapat menjadi bagian atau sisipan dalam suatu tepak.

Dalam praktik koreografi, perubahan tersebut dapat memberikan ruang bagi pesilat untuk melakukan gerak berputar, perubahan arah, atau transisi.

⚡ MINCIG

Mincig merupakan variasi yang meningkatkan kepadatan ritme.

Dalam transkripsi Paleredan, mincid muncul sebagai bagian sisipan dan menggunakan pola yang lebih rapat melalui teknik rangkep, sehingga aliran musik terasa lebih bergerak. (Scribd)

Karena itu:

Satu tepak tidak selalu berarti satu pola yang dimainkan secara kaku dari awal sampai akhir.

Ada pola dasar, variasi, aksen, transisi, dan penutup.


🟡 5. TEPAK DUA

Tepak Dua merupakan salah satu pola panjang dalam tradisi kendang penca.

Kajian musik kendang penca menggolongkan Tepak Dua dan Paleredan sebagai bentuk panjang dengan 16 ketukan dasar, sementara Tepak Tilu termasuk bentuk 8 ketukan. (Scribd)

Dalam praktik ibing, Tepak Dua memberikan ruang yang cukup luas untuk:

  • Kembangan

  • Langkah

  • Kuda-kuda

  • Gerak tangan

  • Gerak badan

  • Perubahan arah

  • Aksen tenaga

  • Transisi antarjurus

Karena ruang waktunya relatif panjang, pesilat dapat memperlihatkan keindahan gerak dan penguasaan tubuh.

Tepak Dua juga dapat menjadi jembatan menuju pola yang lebih dinamis.


🔵 6. TEPAK TILU

Tepak Tilu memiliki karakter yang lebih aktif.

Dalam struktur musikal yang didokumentasikan secara akademis, Tepak Tilu termasuk bentuk 8 ketukan dasar. (Scribd)

Karakter ini memberikan ruang bagi gerak yang lebih cepat dan responsif.

Pada tahap ini pesilat mulai dituntut untuk:

mendengar → menghitung → bergerak → merespons aksen.

Karena itu Tepak Tilu sangat menarik untuk pembelajaran serang-bela yang masih terikat dengan irama.

Beberapa sumber pembelajaran ibing penca juga menempatkan Tepak Tilu sebagai bagian yang lebih dinamis setelah bagian awal seperti Tepak Dua atau Paleredan. (Scribd)


🟠 7. GOLEMPANG / GOLEMPANGAN

Golempang memiliki karakter yang lebih cepat dibanding pola-pola yang lebih tenang.

Dalam perkembangan ibing penca, Golempang dapat digunakan untuk meningkatkan dinamika gerak sebelum menuju bagian yang lebih tinggi intensitasnya.

Secara sederhana:

Paleredan
⬇️
Tepak Dua
⬇️
Tepak Tilu
⬇️
Golempang
⬇️
Padungdung

Tetapi ini bukan urutan wajib.

Struktur pertunjukan dapat berbeda sesuai tradisi, perguruan, koreografi dan kebutuhan pertunjukan. Literatur kendang penca juga mencatat berbagai kombinasi tepak, misalnya Paleredan → Padungdung atau Tepak Dua → Padungdung. (Scribd)


🔴 8. PADUNGDUNG: PUNCAK ENERGI

Padungdung merupakan salah satu pola yang sangat dikenal dalam pertunjukan penca.

Dalam klasifikasi musikal, terdapat Padungdung anca/kendor dengan struktur 8 ketukan dan Padungdung gancang dengan struktur yang jauh lebih pendek dan cepat. (Scribd)

Inilah bagian ketika energi pertunjukan dapat meningkat tajam.

Gerakan menjadi:

lebih cepat → lebih padat → lebih kuat → lebih ekspresif.

Pada bagian ini, pesilat dapat memperlihatkan aplikasi gerak, serang-bela, respons spontan, atau koreografi yang telah disusun.

Padungdung juga tidak selalu harus dianggap sekadar "musik paling cepat".

Yang lebih penting adalah:

Intensitas + aksen + ketepatan + rasa.


🔔 9. GOONG DAN SISTEM HITUNGAN

Di sinilah konsep hitungan menjadi sangat penting.

Goong bukan sekadar bunyi penutup.

Ia menjadi penanda siklus musikal.

Dalam dokumentasi musikologis kendang penca, satu gongan dipahami sebagai struktur musikal yang diselesaikan oleh pukulan goong. (Scribd)

Maka dalam latihan pesilat:

Hitungan membantu tubuh mengetahui perjalanan gerak.

Sedangkan:

Goong membantu telinga mengetahui titik penyelesaian siklus.

Contohnya dalam pembelajaran koreografi:

1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 – 8 → GOONG!

Tetapi pada pola tertentu, jumlah gerak dapat lebih panjang.

Misalnya, dalam praktik koreografi yang Anda gunakan, terdapat variasi Bombang dengan rentang hitungan sekitar 11 sampai 21 gerakan, tergantung susunan gerak dan pakem yang diterapkan.

Angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai hitungan gerak koreografis, bukan sebagai satu standar universal seluruh Jawa Barat.


🧩 10. SETIAP TEPAK MEMILIKI "BAHASA GERAK"

Inilah bagian yang sering terlewat ketika Gendang Pencak hanya dipelajari sebagai musik.

Setiap tepak dapat memiliki:

UnsurFungsi
Pola ketukanKerangka musik
HitunganStruktur perjalanan gerak
TempoKecepatan gerak
AksenPenegasan gerakan
GoongPenanda siklus/frase
VariasiMemberi warna dan perubahan
GerakRespons tubuh pesilat
RasaKarakter dan penghayatan

Jadi:

TEPAK ≠ SEKADAR TEMPO

Tepak adalah sistem hubungan antara bunyi dan gerak.


🎭 11. GERAK BOMBANG, LIWUNG, MINCIG DAN LAINNYA

Dalam pengembangan koreografi, variasi gerak dapat muncul di antara pola dasar.

Contohnya:

Tepak dasar
→ gerak pokok
Bombang
→ gerak transisi
Liwung/Limbung
→ gerak pokok
Mincig
→ peningkatan tempo
Padungdung
→ klimaks.

Gerak-gerak tersebut memberikan "napas" pada koreografi.

Pesilat tidak bergerak monoton.

Ada saatnya:

🌿 tenang
🌊 mengalir
🌀 berputar
meningkat
🔥 meledak

Kemudian kembali ditutup oleh struktur musik.


🎶 12. TEPAK GONJING / TUKTUK

Perkembangan zaman membawa kreativitas baru.

Dalam perkembangan seni pencak silat untuk pertunjukan dan kejuaraan, dikenal pula Tepak Gonjing/Tungbreng, yang digunakan sebagai bentuk pengembangan musikal untuk memberikan warna yang lebih dinamis.

Hal ini menunjukkan bahwa musik penca terus berkembang.

Namun prinsipnya tetap:

Kreasi boleh berkembang, tetapi hubungan musik dan gerak harus tetap jelas.


🏆 13. DARI PERTUNJUKAN TRADISI MENUJU FESTIVAL PENCAK SILAT

Dalam format festival modern, perangkat musik bahkan dapat dikembangkan menjadi ansambel yang lebih besar.

🥁 WADITRA POKOK

  • Kendang indung

  • Kendang anak

  • Kulanter

  • Tarompet kayu

  • Goong/Bende/Kempul

Perangkat pokok inilah yang membangun karakter dasar Kendang Pencak. Sumber tradisi dan kajian kendang penca sama-sama mencatat kendang sebagai pengisi gerak/pengatur tempo, tarompet sebagai pembawa melodi, dan gong kecil sebagai penanda struktur atau irama. (Scribd)

🎼 WADITRA PENGEMBANGAN FESTIVAL

Untuk kebutuhan pertunjukan modern dapat ditambahkan:

  • Dodog

  • Bonang

  • Suling

  • Siter

  • Kecrek

  • Kempul

  • Kenong

  • Genjring

  • Simbal

  • Kacapi

  • Perkusi tradisional lainnya

Tetapi secara pendidikan harus jelas:

Waditra inti ≠ waditra tambahan festival.

Jangan sampai anak-anak mengira semua instrumen tersebut merupakan perangkat asli yang selalu digunakan dalam format tradisional Kendang Pencak.


🥁 14. DODOK, KECRÉK, BONANG DAN WARNA MUSIK BARU

Ketika festival menggunakan ansambel lebih besar, fungsi setiap instrumen dapat dibagi.

Kendang
→ mengatur pola, aksen, tempo dan komunikasi gerak.

Tarompet kayu
→ membawa melodi dan membangun karakter suasana.

Goong/Kempul/Bende
→ memberi tanda struktur dan titik musikal.

Kecrek
→ memperkuat aksen ritmis.

Bonang
→ memperkaya warna dan pola nada.

Suling
→ memberi warna melodi yang lebih lembut.

Siter/Kacapi
→ memperluas warna musikal.

Dodog/bedug
→ memberikan tenaga dan bobot suara.

Simbal/perkusi
→ dapat digunakan sebagai aksen dalam pengembangan artistik festival.

Dengan demikian, festival dapat menghasilkan pertunjukan yang jauh lebih besar tanpa kehilangan hubungan dengan akar Gendang Pencak.


🥋 15. PESILAT DAN NAYAGA: DUA PELAKU DALAM SATU BAHASA

Dalam pertunjukan penca, kendang dan pesilat memiliki hubungan yang sangat erat.

Kajian Paetzold menjelaskan bahwa kendang indung dan goong menyediakan kerangka bagi gerak, sedangkan tindakan pesilat ikut menentukan struktur aksen yang kemudian direspons secara musikal oleh kendang anak dan tarompet. (Scribd)

Maka hubungan sebenarnya adalah:

PESILAT ↔ KENDANG ↔ TAROMPET ↔ GOONG

Pesilat bergerak.

Kendang membaca.

Tarompet membangun suasana.

Goong menandai siklus.

Lalu semuanya kembali bertemu pada gerak.


🧠 16. HITUNGAN BUKAN SEKADAR ANGKA

Bagi pembelajaran Lugay Kancana, konsep hitungan perlu dibuat menjadi metode pendidikan.

Misalnya:

Tahap 1

Dengar ketukan

Anak belum bergerak.

Hanya belajar mengenali:

Dum... tak... dum... tak...

Tahap 2

Hitung

1 - 2 - 3 - 4

Tahap 3

Masukkan gerak

Hitungan 1 = gerak A
Hitungan 2 = gerak B
Hitungan 3 = gerak C
Hitungan 4 = gerak D

Tahap 4

Kenali goong

...7 - 8 → GOONG!

Tahap 5

Masukkan variasi

Bombang → Liwung → Mincig.

Tahap 6

Lepaskan dari hitungan verbal

Pesilat mulai mampu merasakan pola melalui telinga dan tubuh.

Inilah proses dari:

Menghitung → Menghafal → Merasakan → Menghayati


🌳 17. PETA PEMBELAJARAN GENDANG PENCA LUGAY KANCANA

Konsep kurikulumnya dapat dibuat seperti ini:

TEPAK BUHUN

TEPAK HIJI / SALANCAR

TEPAK DUA

PALEREDAN

TEPAK TILU

GOLEMPANGAN

PADUNGDUNG

BOMBANG • LIMBUNG/LIWUNG • MINCIG

TEPAK GONJING/TUNGBRENG

KREASI FESTIVAL

ANSAMBEL PENCAK SILAT MODERN

Tetapi peta tersebut bukan berarti seluruh pola harus selalu dimainkan dalam urutan tersebut. Tradisi memiliki variasi lokal dan perguruan, sementara kajian musik juga menunjukkan berbagai susunan tepak yang berbeda. (Scribd)


🇮🇩 18. PAKEM DAN KREATIVITAS HARUS BERJALAN BERSAMA

Dari perjalanan Gendang Pencak kita belajar satu prinsip penting.

Pakem adalah akar.
Kreativitas adalah cabang.

Kalau hanya mengejar pakem tanpa memahami maknanya, tradisi bisa berubah menjadi hafalan.

Kalau hanya mengejar kreativitas tanpa mengetahui akar, pertunjukan bisa kehilangan identitas.

Maka generasi muda perlu belajar keduanya.

Kenali Tepaknya.

Pahami hitungannya.

Rasakan aksennya.

Dengarkan goongnya.

Kenali geraknya.

Pahami variasinya.

Kembangkan kreativitasnya.


🥁 PENUTUP

Gendang Pencak adalah salah satu bukti bahwa masyarakat Sunda sejak dahulu memiliki cara yang luar biasa dalam mempertemukan bela diri, musik, tari, rasa dan kebersamaan.

Di dalamnya terdapat sistem yang sangat kaya:

Tepak Buhun memberikan akar.

Tepak Hiji/Salancar menjadi jejak penting tradisi awal.

Tepak Dua dan Paleredan memberikan ruang keindahan.

Tepak Tilu meningkatkan dinamika.

Golempang membawa gerak semakin cepat.

Padungdung membawa energi menuju puncak.

Bombang, Liwung/Limbung dan Mincig memberikan variasi dan perubahan ritmis.

Gonjing/Tungbreng menunjukkan kreativitas perkembangan.

Dan dalam festival modern, berbagai waditra dapat dikembangkan menjadi sebuah orkestrasi penca yang lebih besar.

Tetapi pusatnya tetap sama:

GERAK DAN MUSIK HARUS BERBICARA.

Karena itu, bagi seorang pesilat:

Kendang bukan hanya sesuatu yang didengar.
Kendang harus dirasakan oleh tubuh.

Dan bagi seorang nayaga:

Pesilat bukan hanya sesuatu yang dilihat.
Gerak pesilat harus dibaca melalui rasa.

Pada akhirnya:

🥁 KETUKAN MEMBERI NAPAS.

🥋 GERAK MEMBERI BAHASA.

🔔 GOONG MEMBERI TANDA.

❤️ RASA MEMBERI JIWA.

Gendang Pencak bukan sekadar musik pengiring pencak silat.

Ia adalah bahasa musikal Tatar Sunda yang mempertemukan wiraga, wirahma dan wirasa.

Ditulis oleh: Kang Dodi Lugay
Guru Besar Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana
Bahan pengembangan pembelajaran Seni Ibing Pencak Silat Lugay Kancana

Komentar