Jejak Aliran, Tokoh, Maenpo, Ibing Penca dan Warisan Budaya Sunda
Ditulis oleh: Kang Dodi Lugay
Guru Besar Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🥋 PENDAHULUAN: PENCAK SILAT DAN TATAR PASUNDAN
Pencak silat di Tatar Pasundan bukan sekadar ilmu bela diri. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang kebudayaan masyarakat Sunda yang berkembang melalui olah raga, olah rasa, seni pertunjukan, pendidikan, tata nilai, dan kehidupan sosial masyarakat.
Di Jawa Barat, istilah yang sangat kuat digunakan adalah Penca. Pemerintah Indonesia menetapkan Penca (Pencak Silat Jawa Barat) sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016 dalam domain Seni Pertunjukan. Dalam keterangannya, penca dijelaskan sebagai seni bela diri yang menitikberatkan pada serang-bela, baik dengan tangan kosong maupun menggunakan senjata. Perkembangannya kemudian melahirkan aspek seni yang dikenal sebagai Ibing Penca. (Kebudayaan Kemdikbud)
Pada tingkat dunia, tradisi Pencak Silat Indonesia ditetapkan UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity pada tahun 2019. UNESCO menegaskan bahwa tradisi pencak silat tidak hanya berkaitan dengan olahraga dan bela diri, tetapi juga mencakup aspek mental-spiritual, seni, pendidikan, hubungan sosial dan budaya. (UNESCO ICH)
Karena itu, ketika kita membicarakan sejarah pencak silat di Tatar Pasundan, kita sebenarnya sedang membicarakan sejarah sebuah ekosistem budaya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌿 APAKAH PENCAK SILAT MEMILIKI SATU ASAL-USUL?
Pertanyaan ini tidak mudah dijawab dengan satu nama, satu tahun atau satu tempat.
Ilmu pencak silat tradisional pada masa lalu banyak diwariskan melalui hubungan guru dan murid, keluarga, komunitas, lingkungan pesantren, masyarakat pedesaan, bangsawan, serta perguruan. Banyak sejarahnya tersimpan dalam tradisi lisan.
Karena itu, cerita mengenai siapa yang pertama menciptakan suatu aliran sering mempunyai beberapa versi.
Yang lebih aman secara historis adalah melihat perkembangan pencak silat sebagai proses:
olah tubuh → pengalaman bertarung → pengembangan jurus → pewarisan guru-murid → pembentukan aliran → lahirnya perguruan → berkembang menjadi seni, olahraga dan budaya.
Direktori Tradisi Pencak Silat juga menjelaskan bahwa suatu aliran merupakan pengetahuan mengenai filosofi, jurus dan teknik yang dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, wawasan dan keyakinan penciptanya, kemudian diwariskan dan dapat berkembang menjadi ciri khas perguruan. (Tradisi Pencak Silat)
Jadi, aliran dan perguruan bukan selalu hal yang sama.
Aliran lebih berkaitan dengan sistem keilmuan, karakter jurus, prinsip gerak dan filosofi.
Perguruan adalah wadah tempat ilmu tersebut diajarkan, dikembangkan dan diwariskan.
Bahkan sebuah perguruan dapat mempelajari beberapa aliran sekaligus dan kemudian membentuk karakter khasnya sendiri.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🏞️ CIANJUR DAN PERKEMBANGAN MAENPO
Dalam sejarah pencak silat Jawa Barat, Cianjur mempunyai posisi yang sangat penting.
Cianjur bahkan mengenal konsep tiga pilar budaya yang terkenal:
NGaos – Mamaos – Maenpo.
Maenpo merupakan istilah yang sangat erat dengan tradisi pencak silat Cianjur.
Penelitian sejarah di Universitas Pendidikan Indonesia mencatat bahwa dalam perkembangan pencak silat Cianjur terdapat tiga aliran pokok yang sangat dikenal, yaitu:
🥋 Cikalong
🥋 Cimande
🥋 Sabandar (Repository UPI)
Dari Cianjur inilah berbagai pengetahuan penca kemudian berkembang, bertransformasi, bercampur, dan menyebar ke wilayah lain.
Namun perlu dicatat:
menyebut Cianjur sebagai salah satu pusat penting perkembangan penca Jawa Barat tidak berarti seluruh pencak silat Sunda berasal dari Cianjur.
Tradisi penca tumbuh di banyak tempat dengan sejarah dan karakter masing-masing.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🥋 1. ALIRAN CIMANDE
Salah satu nama paling penting dalam sejarah pencak silat Jawa Barat adalah Cimande.
Aliran Cimande tumbuh secara tradisional di wilayah Desa Cimande, khususnya Kampung Tarikolot, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.
Tokoh yang secara umum dikenal sebagai penyebar utama aliran ini adalah:
Ayah Kahir / Embah Kaer / Eyang Khoer.
Ilmu Cimande kemudian diwariskan dari generasi ke generasi dan menyebar jauh melampaui wilayah Bogor. (Tradisi Pencak Silat)
Cimande tidak hanya penting dari sisi bela diri.
Ia juga mempunyai tradisi ibing penca yang sangat kuat.
Dalam tradisi tersebut, jurus dan gerak penca dapat ditampilkan dalam bentuk seni dengan iringan musik tradisional, termasuk kendang penca.
Salah satu bentuk tradisi yang penting adalah Ibing Tepak Salancar, yang kemudian menjadi salah satu jejak penting dalam perkembangan pola irama kendang penca.
Karena itu Cimande mempunyai posisi penting dalam memahami hubungan:
Jurus → Ibing → Musik → Pertunjukan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🥋 2. ALIRAN CIKALONG
Jika Cimande sangat kuat di wilayah Bogor, maka Cikalong menjadi salah satu pusat penting perkembangan Maenpo di Cianjur.
Aliran Cikalong berkembang di wilayah Cikalong Kulon, Cianjur, dan secara umum dikaitkan dengan tokoh:
Rd. Haji Ibrahim / Rd. Jayaperbata.
R.H. Ibrahim hidup pada sekitar 1816–1906 menurut sejumlah sumber penelitian sejarah. (Repository UPI)
Dalam tradisi keilmuan Cikalong, R.H. Ibrahim disebut berguru kepada sejumlah tokoh, antara lain:
R. Ateng Alimudin
Abang Ma'ruf
Abang Madi
Abang Kari
Perjalanan berguru tersebut penting karena menunjukkan bahwa Cikalong tidak dapat dipahami sebagai ilmu yang muncul dalam ruang kosong.
Ia berkembang melalui proses belajar, pertemuan, pengolahan dan penyempurnaan.
Sumber tradisi bahkan mencatat adanya karakter permainan yang berbeda di antara para penerusnya.
Ada yang menitikberatkan pada ameng peupeuhan, ada yang menekankan ulin rasa/ulin tempelan, ada yang mengembangkan usik puhu, dan ada yang dikenal dengan usik tungtung. (Tradisi Pencak Silat)
Hal ini memberikan pelajaran penting:
Satu aliran dapat memiliki banyak ekspresi permainan tanpa kehilangan akar keilmuannya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌊 3. ALIRAN SABANDAR
Aliran berikutnya yang sangat penting adalah Sabandar.
Sabandar berkembang di Jawa Barat dan sangat kuat kaitannya dengan wilayah Cianjur dan Sukabumi.
Tokoh yang dikenal dalam sejarah tradisi Sabandar adalah:
Muhamad Kosim / Mama Sabandar.
Ia disebut berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat dan kemudian mengembangkan keilmuannya di Jawa Barat. (Tradisi Pencak Silat)
Karakter Sabandar dalam berbagai tradisi sering dikaitkan dengan permainan yang mengalir, menghindari atau mengalihkan tenaga serangan lawan, dengan penggunaan langkah dan posisi tubuh yang khas.
Namun sejarah Sabandar juga mempunyai berbagai versi, termasuk mengenai aspek tenaga, pernapasan dan karakter tekniknya.
Karena itu, pembahasan Sabandar sebaiknya tidak disederhanakan menjadi satu definisi.
Yang menarik adalah hubungan Sabandar dengan Cikalong.
Dalam tradisi Cianjur, sejumlah murid generasi penerus Cikalong belajar kepada Mama Sabandar. Salah satu yang sering disebut adalah Rd. H. Enoh.
Dari proses tersebut berkembang apa yang dikenal sebagai:
Cikalong-Sabandar.
Dengan demikian, sejarah aliran tidak selalu berjalan dalam garis lurus.
Kadang dua tradisi bertemu, saling memengaruhi, kemudian melahirkan karakter baru. (Tradisi Pencak Silat)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌀 4. ALIRAN SERA
Sera merupakan salah satu nama penting dalam khazanah pencak silat Jawa Barat.
Namun berbeda dengan Cimande dan Cikalong, sejarah awal Sera mempunyai tingkat ketidakpastian yang lebih besar.
Tradisi yang berkembang menyebut tokoh Abah Sera, tetapi mengenai asal-usul dan latar belakangnya terdapat beberapa versi.
Ada tradisi yang menghubungkannya dengan wilayah tertentu di Jawa Barat, bahkan terdapat versi yang mengaitkannya dengan Banten.
Karena sumber sejarahnya banyak berasal dari tradisi lisan, informasi mengenai asal-usul Sera sebaiknya disampaikan sebagai versi tradisi, bukan sebagai fakta tunggal yang sudah sepenuhnya terverifikasi. (Tradisi Pencak Silat)
Hal ini justru menunjukkan betapa pentingnya penelitian sejarah pencak silat.
Tradisi lisan harus dihormati, tetapi perlu terus didokumentasikan, dibandingkan dan dikaji dengan sumber tertulis.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
⚖️ 5. ALIRAN TIMBANGAN
Nama lain yang tercatat dalam khazanah penca Jawa Barat adalah Timbangan.
Pemerintah melalui data Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat memasukkan Timbangan bersama Cikalong dan Cimande sebagai contoh keberagaman aliran atau perguruan yang membentuk variasi teknik penca. (Kebudayaan Kemdikbud)
Timbangan menunjukkan bahwa perkembangan pencak silat Sunda tidak berhenti pada tiga nama besar yang sering disebut dalam sejarah Cianjur.
Setiap daerah dan komunitas dapat mengembangkan sistem gerak berdasarkan pengalaman, kebutuhan dan lingkungan masing-masing.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🥋 6. KARI DAN MADI
Dalam sejarah perkembangan Cikalong, nama Bang Kari dan Bang Madi sangat penting.
Keduanya sering disebut sebagai guru yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan keilmuan R.H. Ibrahim.
Dalam tradisi yang berkembang kemudian, permainan Kari dan Madi menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan Maenpo Cianjur.
Bahkan di wilayah Cikaret, Cianjur, berkembang tradisi yang lebih menitikberatkan pada permainan Kari.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa jaringan keilmuan pencak silat pada masa lalu sangat dinamis.
Seorang pendekar dapat berguru kepada beberapa guru.
Kemudian ilmu tersebut diolah kembali menjadi karakter permainan yang khas.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🧭 7. JARINGAN ALIRAN: BUKAN GARIS LURUS
Jika kita menggambarkan perkembangan pencak silat Tatar Pasundan, jangan membayangkannya sebagai sebuah garis:
Cimande → Cikalong → Sabandar → selesai.
Kenyataannya jauh lebih menarik.
Lebih tepat membayangkannya sebagai jaringan.
Cimande memengaruhi berbagai tradisi.
Cikalong berkembang melalui proses berguru kepada beberapa tokoh.
Sabandar berkembang dari pertemuan tradisi Pagaruyung dengan lingkungan Jawa Barat.
Cikalong dan Sabandar kemudian berinteraksi di Cianjur.
Kari dan Madi ikut memberikan warna dalam perkembangan Maenpo.
Sera, Timbangan dan berbagai aliran lainnya berkembang dalam lingkungan masing-masing.
Kemudian berbagai perguruan melakukan proses:
belajar → mengolah → menggabungkan → mengembangkan → mewariskan.
Inilah yang membuat wajah pencak silat Jawa Barat sangat beragam.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🎭 8. DARI BELA DIRI MENJADI IBING PENCA
Salah satu perkembangan terbesar dalam sejarah penca Sunda adalah lahirnya Ibing Penca.
Pada awalnya, aspek yang paling menonjol dalam penca adalah:
SERANG – BELA.
Namun kemudian unsur seni masuk ke dalam gerakan.
Gerakan penca mulai ditampilkan dengan iringan musik dan membentuk tradisi Ibing Penca. Pemerintah menjelaskan bahwa Ibing Penca tetap berakar pada gerakan penca yang memiliki fungsi serang-bela, sehingga tidak tepat jika hanya dipahami sebagai tari yang kebetulan menggunakan gerakan silat. (Kebudayaan Kemdikbud)
Di sinilah muncul perpaduan:
🥋 Jurus
👣 Langkah
🎭 Kembangan
🥁 Kendang
🎺 Tarompet
🔔 Goong
❤️ Rasa
Penca berubah menjadi sebuah seni pertunjukan tanpa kehilangan akar bela dirinya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🥁 9. GENDANG PENCA DAN PERKEMBANGAN IRAMA
Ibing Penca kemudian berkembang bersama musik pengiring yang dikenal sebagai Gendang Pencak/Kendang Pencak.
Dalam perkembangannya dikenal berbagai pola tepak, antara lain:
🥁 Tepak Hiji / Salancar
🥁 Tepak Dua
🥁 Pareredan / Paleredan
🥁 Tepak Tilu
🥁 Golempang / Golempangan
🥁 Padungdung
Kemudian berkembang pula berbagai variasi ritme dan kreativitas musikal.
Hubungan kendang dan pesilat menjadi sangat penting.
Kendang membaca gerak.
Pesilat membaca irama.
Tarompet membangun suasana.
Goong memberikan tanda pada struktur musikal.
Inilah yang kemudian membentuk hubungan:
WIRAGA + WIRAHMA + WIRASA.
UNESCO sendiri menggambarkan tradisi pencak silat sebagai kesatuan gerak tubuh, rasa gerak dan kesesuaian gerak dengan musik pengiring. (UNESCO ICH)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌄 10. PENCAK SILAT MENYEBAR KE BERBAGAI WILAYAH
Setelah berkembang kuat di wilayah-wilayah seperti Bogor dan Cianjur, berbagai aliran dan perguruan pencak silat menyebar ke:
Purwakarta
Karawang
Subang
Bandung
Garut
Sukabumi
Banten
Jakarta
dan berbagai wilayah Nusantara.
Perpindahan manusia ikut membawa perpindahan ilmu.
Guru berpindah.
Murid merantau.
Pendekar bertemu.
Perguruan berkembang.
Jurus kemudian mengalami proses adaptasi dengan lingkungan baru.
Karena itu kita menemukan sebuah fenomena menarik:
Nama alirannya sama, tetapi cara memainkannya bisa berbeda.
Sebaliknya:
Nama perguruannya berbeda, tetapi memiliki akar keilmuan yang beririsan.
Inilah salah satu ciri khas perkembangan pencak silat tradisional.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🏯 11. LAHIRNYA BERBAGAI PERGURUAN
Perkembangan pencak silat kemudian melahirkan banyak perguruan.
Salah satu contoh yang menarik adalah HPS Panglipur.
Direktori Tradisi Pencak Silat mencatat Panglipur memiliki pengaruh dari beberapa aliran seperti Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan tradisi lainnya. (Tradisi Pencak Silat)
Ini memberikan contoh nyata bahwa sebuah perguruan dapat membangun identitas melalui perpaduan berbagai sumber keilmuan.
Namun hal tersebut tidak berarti semua perguruan mempunyai pola yang sama.
Setiap guru kemudian memberikan penekanan berbeda terhadap:
jurus, langkah, rasa, tenaga, seni, aplikasi dan filosofi.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🥋 12. DARI PENCAK SILAT TRADISIONAL MENUJU OLAHRAGA
Memasuki perkembangan modern, pencak silat mengalami perubahan fungsi.
Jika dahulu sangat kuat sebagai:
Bela diri → pendidikan → tradisi → pertunjukan.
Kemudian berkembang pula menjadi:
Olahraga → pertandingan → pembinaan atlet → organisasi → prestasi.
Maka sekarang pencak silat memiliki beberapa wajah sekaligus:
🥋 Bela diri
🎭 Seni
🏆 Olahraga
🌿 Tradisi budaya
🧠 Pendidikan karakter
UNESCO juga mengakui keberagaman fungsi tersebut dalam tradisi Pencak Silat Indonesia. (UNESCO ICH)
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🇮🇩 13. PENCAK SILAT SEBAGAI WARISAN BUDAYA
Pada tahun 2016, pemerintah Indonesia menetapkan Penca (Pencak Silat Jawa Barat) sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Kemudian pada 2019, UNESCO menetapkan Traditions of Pencak Silat dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. (Kebudayaan Kemdikbud)
Pengakuan tersebut bukan berarti pencak silat baru menjadi budaya setelah masuk UNESCO.
Justru sebaliknya.
UNESCO memberikan pengakuan terhadap tradisi yang telah hidup dan diwariskan oleh komunitas.
Karena itu tanggung jawab kita bukan sekadar merasa bangga.
Tanggung jawab sebenarnya adalah memahami, mengajarkan dan mewariskannya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🗺️ 14. PETA SEDERHANA ALIRAN PENCAK SILAT TATAR PASUNDAN
Secara sederhana, perkembangan dapat kita pahami melalui beberapa simpul besar:
🥋 CIMANDE
Bogor
↓
Tradisi jurus dan ibing penca
🥋 CIKALONG
Cianjur
↓
Maenpo dan perkembangan keilmuan Cikalong
🥋 SABANDAR
Pagaruyung → Jawa Barat
↓
Cianjur & Sukabumi
🥋 KARI – MADI
↓
Memberikan pengaruh dalam perkembangan Maenpo
🥋 CIKALONG – SABANDAR
↓
Pertemuan dan perkembangan keilmuan di Cianjur
🥋 SERA
↓
Berkembang dalam berbagai tradisi lokal
🥋 TIMBANGAN & ALIRAN LAINNYA
↓
Memperkaya khazanah penca Jawa Barat
Kemudian berkembang menjadi:
PERGURUAN → IBING PENCA → GENDANG PENCA → PERTUNJUKAN → OLAHRAGA → FESTIVAL → PEWARISAN BUDAYA.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌱 15. APA YANG HARUS DIPELAJARI GENERASI LUGAY KANCANA?
Sejarah ini seharusnya tidak hanya menjadi pengetahuan.
Ia dapat menjadi dasar pembinaan.
Pesilat Lugay Kancana perlu mengenal:
🥋 Sejarah Pencak Silat Sunda
🥋 Sejarah aliran
🥋 Tokoh dan guru
🥋 Jurus dan langkah
🥋 Fungsi setiap gerakan
🥋 Ibing Penca
🥁 Gendang Pencak
🎭 Seni Ganda dan koreografi
🗡️ Senjata tradisional
🧠 Filosofi dan karakter
🤝 Etika guru dan murid
🌿 Pelestarian budaya
Dengan demikian, seorang pesilat tidak hanya bertanya:
"Bagaimana cara melakukan jurus ini?"
Tetapi juga:
"Dari mana ilmu ini berasal?"
"Mengapa gerakannya seperti ini?"
"Apa fungsi gerakannya?"
"Apa nilai yang terkandung di dalamnya?"
"Bagaimana saya bisa mewariskannya kepada generasi berikutnya?"
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🌳 16. LUGAY KANCANA DAN TUGAS PEWARISAN
Bagi Lugay Kancana, mempelajari sejarah Tatar Pasundan bukan berarti harus mengklaim semua aliran sebagai milik sendiri.
Justru sebaliknya.
Kita perlu menghormati setiap guru, aliran, perguruan dan tradisi yang menjadi bagian dari perjalanan panjang pencak silat.
Lugay Kancana dapat mengambil pelajaran dari berbagai perjalanan tersebut:
Dari Cimande kita belajar akar tradisi.
Dari Cikalong kita belajar pentingnya proses berguru dan mengolah rasa.
Dari Sabandar kita belajar membaca, mengalir dan merespons.
Dari berbagai aliran lain kita belajar bahwa pencak silat memiliki banyak wajah.
Dari Ibing Penca kita belajar menyatukan bela diri dan seni.
Dari Gendang Pencak kita belajar menyatukan gerak, irama dan rasa.
Dan dari semuanya kita belajar:
ILMU HARUS DIPELAJARI, DIHAYATI, DIKEMBANGKAN DAN DIWARISKAN.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🥋 17. SEJARAH BUKAN UNTUK DIPERTENTANGKAN
Dalam penelitian pencak silat tradisional, kita sering menemukan perbedaan cerita.
Ada perbedaan:
nama tokoh,
tahun,
urutan guru,
asal-usul aliran,
jumlah jurus,
dan versi perjalanan keilmuan.
Perbedaan tersebut tidak selalu berarti salah satu pihak pasti berbohong.
Sebagian sejarah memang diwariskan melalui tradisi lisan.
Karena itu diperlukan sikap:
Menghormati tradisi + Menguji sumber + Mendokumentasikan sejarah.
Jangan terburu-buru mengatakan:
"Versi saya paling benar."
Lebih baik mengatakan:
"Ini adalah versi tradisi yang berkembang di lingkungan kami, sementara sumber lain memiliki versi berbeda."
Sikap seperti inilah yang membuat penelitian budaya menjadi lebih sehat.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
🇮🇩 PENUTUP: DARI JURUS MENJADI WARISAN
Sejarah Pencak Silat Tatar Pasundan adalah sejarah tentang perjalanan manusia.
Manusia belajar bertahan.
Manusia belajar bergerak.
Manusia berguru.
Manusia mengolah pengalaman.
Manusia menciptakan jurus.
Jurus diwariskan.
Kemudian jurus berkembang menjadi aliran.
Aliran berkembang melalui perguruan.
Perguruan melahirkan generasi.
Dan akhirnya pencak silat menjadi bagian dari kebudayaan.
Cimande.
Cikalong.
Sabandar.
Sera.
Timbangan.
Kari-Madi.
Maenpo.
Ibing Penca.
Gendang Pencak.
Semuanya merupakan bagian dari mozaik besar perjalanan pencak silat di tanah Pasundan.
Namun warisan budaya tidak akan hidup hanya karena namanya ditulis dalam buku.
Ia akan hidup ketika ada generasi yang mau belajar.
Ia akan hidup ketika seorang guru mau mengajarkan.
Ia akan hidup ketika seorang murid mau menghormati.
Ia akan hidup ketika sejarahnya didokumentasikan.
Dan ia akan hidup ketika generasi muda mampu mengembangkan ilmu tanpa kehilangan akarnya.
🥋 KENALI SEJARAHNYA.
🌿 PAHAMI ALIRANNYA.
❤️ RASAKAN ILMUNYA.
🥁 HAYATI IRAMANYA.
🎭 KEMBANGKAN SENINYA.
🇮🇩 JAGA WARISANNYA.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
“Pencak silat bukan hanya tentang bagaimana kita mampu mengalahkan lawan, tetapi bagaimana kita mampu mengenal diri, menghormati guru, menjaga persaudaraan dan meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya.”
Ditulis oleh:
Kang Dodi Lugay
Guru Besar Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana
Untuk pembelajaran, dokumentasi sejarah dan pengembangan Seni Pencak Silat Lugay Kancana.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Referensi utama
Pemerintah Indonesia, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya: Penca (Pencak Silat Jawa Barat), WBTB Indonesia 2016
UNESCO: Traditions of Pencak Silat, Intangible Cultural Heritage 2019
Universitas Pendidikan Indonesia: Perkembangan Pencak Silat Aliran Cikalong Kabupaten Cianjur 1930–1975
Direktori Tradisi Pencak Silat: Direktori Aliran Pencak Silat Indonesia
Direktori Tradisi Pencak Silat, Cikalong: Aliran Cikalong
Direktori Tradisi Pencak Silat, Sabandar: Aliran Sabandar

Komentar